Skip to main content

Inggit Garnasih Sosok Kunci yang Mengantar Soekarno Menjadi Presiden

Lukisan Seruni Bodjawati tentang Inggit Garnasih. Hubungi WA untuk mendapatkan karya ini: 085602897020. Gratis biaya pengiriman, sertifikat resmi, dan berbagai bonus ekslusif.

Inggit Garnasih adalah istri ke-2 Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Keduanya kenal pertama kali saat Soekarno masih menjadi mahasiswa dan kost di kediaman Haji Sanusi, anggota Sarekat Islam (SI), yang tak lain adalah suami Inggit. Saat itu, Soekarno dan Inggit masing-masing telah menikah.

Soekarno saat itu beristri Oetari, anak dari HOS Tjokroaminoto. Seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta muncul di antara keduanya. Retaknya rumah tangga masing-masing pihak membuat benih cinta keduanya makin bersemi. Akhirnya, Soekarno memutuskan menceraikan Oetari dan mengembalikannya kepada HOS Tjokroaminoto yang tak lain adalah gurunya.

Singkat cerita, Sanusi akhirnya menceraikan Inggit setelah mengetahui sang istri menjalin hubungan asmara dengan Soekarno. Sanusi lantas merelakan Inggit dinikahi Soekarno. Sejak itu Inggit menjadi orang yang sangat berjasa bagi Soekarno. Inggit selalu hadir dalam semua kesulitan Soekarno. Saat dipenjara dan dibuang Belanda, Inggit setia menemani.


Namun, benih keretakan rumah tangga akhirnya muncul. Setelah 20 tahun menikah, keduanya belum juga diberika keturunan oleh Tuhan. Bung Karno yang usianya 13 tahun lebih muda dari Inggit sangat menginginkan anak. Soekarno pun berniat menjadikan Inggit istri pertama dan menikahi Fatmawati, anak tokoh Muhammadiyah di Bengkulu yang dikenalnya saat diasingkan di sana.

Rencana itu ditolak tegas Inggit. Dia lebih memilih berpisah ketimbang harus di madu. Akhirnya, keduanya bercerai pada 1943. Soekarno kemudian menikahi Fatmawati. Inggit kemudian kembali ke Bandung.

Tahun 1960, Soekarno pernah mendatangi Inggit di Bandung. Saat itu, Inggit sudah berumur 72 tahun. Sementara Soekarno berusia 59 tahun dan sedang berada di puncak kekuasaannya setelah mengeluarkan dekrit presiden tahun 1959 dan membentuk sistem pemerintahan presidensial.

Sang pemimpin besar revolusi kemudian meminta maaf karena telah menyakiti hati Inggit. Pada waktu itu Inggit menjawab.

"Tidak usah meminta maaf Kus. Pimpinlah negara dengan baik, seperti cita-cita kita dahulu di rumah ini."

"Negara kita ini, untuk kita semua, untuk seluruh rakyat dan untuk seluruh keturunan bangsa kita," demikian dikutip dalam leaflet 'Rumah Bersejarah Inggit Garnasih', dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Inggit menatap Soekarno yang berdiri dengan jas kebesarannya. Dia kemudian memegang bahu Soekarno. Dalam bahasa Sunda, Inggit menyampaikan nasihatnya. Sama seperti yang selalu dilakukannya dulu sejak berkenalan dengan Soekarno di Bandung tahun 1921. Inggit juga selalu memanggil Soekarno dengan Kusno, nama kecilnya.

"Kus, ini baju pemberian rakyat. Kus harus ingat dan harus bisa menjaganya. Jangan sampai melupakan mereka," kata Inggit seperti ditulis Tito Zeni Asmara Hadi dalam pengantar buku Kuantar ke Gerbang karangan Ramadhan KH yang diterbitkan Bentang.

Inggit berumur panjang. Dia melihat Orde Lama tumbang dan digantikan Orde Baru. Soekarno yang dulu jaya, diasingkan Soeharto dalam Wisma Yasoo di Jl Gatot Soebroto, Jakarta. Jika Belanda mengasingkan Soekarno ke Flores dan Bengkulu, maka kini Soekarno dibuang oleh bangsanya sendiri.

Dalam kesendirian Soekarno meninggal tahun 21 Juni 1970. Inggit terisak sedih melihat cinta lamanya pergi mendahului dirinya.

"Kus, gening kus teh miheulaan, ku Inggit didoakeun..." artinya kira-kira "Kus, Ternyata Kus pergi lebih dulu. Inggit mendoakanmu.."

Kelak istri-istri Soekarno justru rajin mengunjungi Inggit di Bandung. Fatmawati, Hartini, hingga Ratna Dewi. Semuanya menghormati sosok wanita tua yang luar biasa ini.

Inggit meninggal tanggal 13 April 1984 dan dimakamkan di Pemakaman Babakan Ciparay Bandung. Saat meninggal usia Inggit 96 tahun.

Soekarno mengakui Inggit bukanlah wanita yang pintar berorasi dan pintar dalam akademik. Inggit adalah seorang wanita yang bijaksana, pintar melayani suami dan selalu memberi semangat. Tanpa ditopang Inggit, Soekarno tak akan belajar menjadi seorang pemimpin besar.

Lukisan oleh Seruni Bodjawati. Judul: Cinta Inggit Garnasih. Ukuran: 130 x 100 cm. Media: Cat akrilik pada kanvas. Tahun: 2018.

Tertarik mengoleksi karya lukisan asli Seruni Bodjawati? Hubungi: 085602897020 (WhatsApp). Gratis biaya pengiriman, sertifikat resmi, dan berbagai bonus ekslusif.

If you would like to buy this original painting directly from the artistorder custom art or any business inquiries, please contact +6285602897020 (WhatsApp), send an e-mail to serunibodjawati@gmail.com, or send Direct Message on Instagram @seruni_bodjawati

Worldwide Shipping 

Curated Art Highlights

Order Lukisan Buddha Handmade Kanvas - Jual Karya Seni Buddhis

Buddhisme di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan kaya, dimulai sejak abad ke-5 Masehi ketika agama ini pertama kali diperkenalkan melalui jalur perdagangan maritim dari India dan Tiongkok. Jejak kejayaan Buddhisme terlihat jelas pada masa Kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan Kerajaan Majapahit di Jawa, yang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha dan filsafat. Candi Borobudur di Magelang, salah satu situs warisan dunia UNESCO, adalah bukti nyata kebesaran seni dan spiritualitas Buddhisme Indonesia. Candi ini dihiasi relief yang menggambarkan ajaran Buddha, kisah Jataka, dan perjalanan menuju pencerahan, menjadikannya salah satu karya seni Buddhis terbesar di dunia. Seni Buddhis di Indonesia tidak hanya terpaku pada candi, tetapi juga berkembang dalam bentuk seni rupa, patung, dan lukisan. Dalam seni modern, banyak pelukis Indonesia yang mengangkat tema-tema Buddhis seperti meditasi, kedamaian, dan kebijaksanaan dalam karya mereka, salah satu seniman yang terkenal dalam menghasilk...

Sejarah Seni Lukis Indonesia Era Pra Kemerdekaan hingga Kontemporer

Dalam  perkembangan seni lukis  di Indonesia yang berbasis pada paradigma estetik humanisme universal,  masa pendudukan Jepang  sangatlah berpengaruh pada proses penciptaan karya pada para pelukis di masa tersebut. Para pelukis masih sangat terpengaruh pada dampak berdirinya  PERSAGI , sehingga mereka masih mengedepankan penciptaan karya seni lukis untuk kepentingan revolusi  dan humanisme. Galeri dan museum seni lukis pelukis Seruni Bodjawati yang merepresentasikan perkembangan seni lukis Indonesia, sekaligus menjadi ruang edukasi dan pelestarian seni rupa nusantara. Pada saat itu, didirikan KEIMIN BUNKA SHIDOSO ( Lembaga Kesenian Indonesia  - Jepang )   oleh Pemerintah Jepang .   Hakikatnya, pendirian lembaga ini justru  lebih mengarah pada kegiatan propaganda  untuk memajukan bangsa Jepang.  Selanjutnya, PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) oleh Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH Mansur  pada tahun 1943 . PUTERA ...